MANADO – Kompassulut.com.Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2026 di Sulawesi Utara dipastikan akan diwarnai aksi massa besar-besaran. Ribuan sopir yang tergabung dalam Aliansi Dump Truck Sulawesi Utara bersiap turun ke jalan untuk menyuarakan protes terkait carut-marutnya distribusi solar bersubsidi yang kian mencekik mata pencaharian mereka.
Aksi ini rencananya akan dipusatkan di Taman Kesatuan Bangsa (TKB), Manado. Ketua Aliansi Dump Truck Sulut, William Luntungan, menegaskan bahwa turunnya para sopir ke jalan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan puncak kekesalan atas sulitnya mendapatkan akses bahan bakar di sejumlah SPBU.
Aliansi menilai ada ketidakberesan yang sangat kontras dalam pola distribusi solar. William menyoroti fenomena aneh di mana stok solar bersubsidi seringkali ludes hanya dalam hitungan jam setelah SPBU dibuka.
“Baru beberapa jam dibuka, solar sudah habis. Ini pola yang berulang. Kami melihat ada kejanggalan serius. Situasi ini tidak masuk akal jika distribusinya normal,” tegas William saat memberikan keterangan pada Senin (27/4/2026).
Kondisi ini memicu dugaan kuat adanya praktik mafia solar yang bermain secara sistematis di balik layar. Akibatnya, para sopir harus menghadapi antrean panjang setiap hari, yang berdampak pada berkurangnya waktu kerja dan anjloknya penghasilan mereka.
Pihak aliansi secara terbuka mendesak aparat kepolisian untuk bertindak proaktif. William berkaca pada efektivitas pengawasan lapangan yang pernah dilakukan sebelumnya yang terbukti mampu menekan penyimpangan.
• Desakan untuk Polisi: Aparat diminta turun langsung menertibkan kendaraan-kendaraan yang diduga menjadi bagian dari jaringan mafia solar tanpa menunggu laporan formal.
• Kritik untuk Pertamina: PT Pertamina (Persero) dinilai gagal menjalankan fungsi pengawasan. Lemahnya kontrol dari perusahaan pelat merah ini dianggap memberi ruang luas bagi oknum untuk menyelewengkan barang subsidi.
Kekhawatiran para sopir kian memuncak seiring melonjaknya harga solar industri non-subsidi. William membeberkan data bahwa harga solar industri yang pada awal tahun berada di kisaran Rp20.000-an, kini telah merangkak naik hingga menembus Rp30.000 per liter.
Selisih harga yang sangat lebar antara solar subsidi dan industri ini diprediksi akan memperbesar insentif bagi para mafia untuk meraup keuntungan berlipat dengan cara ilegal.
“Kalau harga industri makin mahal, godaan untuk ‘bermain’ makin besar. Ini yang harus dicegah sejak sekarang sebelum sistem distribusi kita benar-benar kolaps,” tambah William.
Aksi pada 1 Mei mendatang merupakan kelanjutan dari rangkaian perjuangan para sopir. Sebelumnya, Aliansi Dump Truck Sulut telah menggelar demonstrasi serupa di Kantor DPRD Sulawesi Utara dan Kantor Gubernur, namun hingga kini solusi konkret di lapangan dinilai belum terasa dampaknya bagi para pekerja transportasi lokal.
(Billy)






